Indeks
Ciamis  

Seleksi Paskibraka Ciamis 2026 Diperketat, Rekam Jejak Medsos Ikut Disorot

Ciamis, Sawalajabar.com — Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik tengah merampungkan tahapan seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat kabupaten tahun 2026.

Proses seleksi tahun ini dilakukan lebih ketat dan menyeluruh, tidak hanya menilai kemampuan fisik, tetapi juga aspek ideologi hingga rekam jejak digital peserta.

Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Bakesbangpol Ciamis, Wiji Subekti, menyebut penjaringan dilakukan secara sistematis untuk memastikan peserta terbaik siap mengemban tugas pada peringatan 17 Agustus mendatang.

Seleksi Berlapis dari Administrasi hingga Fisik
Wiji menjelaskan, tahapan seleksi dimulai dari administrasi, kemudian dilanjutkan dengan tes pengetahuan seperti Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) dan Tes Intelegensia Umum (TIU).

Selain itu, pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu tahap krusial dalam proses penyaringan.

“Kami melakukan pemeriksaan kesehatan intensif dan seleksi parade. Postur tubuh diperiksa menyeluruh, termasuk memastikan tidak ada kondisi kaki X atau O yang melebihi batas toleransi,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Rekam Jejak Digital Ikut Dinilai

Tak hanya kemampuan akademik dan fisik, tim seleksi juga menaruh perhatian pada aspek kepribadian peserta.

Penilaian dilakukan melalui wawancara wawasan kebangsaan hingga penelusuran minat bakat.

Menariknya, rekam jejak digital peserta di media sosial juga menjadi bagian dari penilaian.

“Kami juga melakukan penelusuran rekam jejak digital untuk memastikan integritas dan latar belakang para calon anggota,” kata Wiji.

Kuota 56 Orang, Dua ke Tingkat Provinsi

Tahun ini, kuota Paskibraka Kabupaten Ciamis ditetapkan sebanyak 56 orang, terdiri dari 29 putri dan 27 putra.

Dari jumlah tersebut, dua peserta terbaik akan dipilih untuk mewakili Ciamis di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Adapun standar fisik yang ditetapkan yakni tinggi badan minimal 160 cm untuk putri dan 165 cm untuk putra, dengan berat badan ideal sesuai ketentuan.

Kesehatan Peserta Jadi Tantangan

Di sisi lain, Wiji mengungkapkan adanya tantangan dalam kondisi kesehatan peserta tahun ini.

Ia mencatat adanya penurunan kualitas kesehatan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama terkait temuan hipertensi dan riwayat asma.

“Kondisi ini membuat sejumlah kandidat terpaksa tidak dapat melanjutkan ke tahap berikutnya,” ungkapnya.

Rangkaian seleksi yang berlangsung sejak akhir Maret hingga pertengahan April ini baru tahap awal.

Peserta yang lolos akan menjalani pembinaan pada Juni hingga Juli, sebelum memasuki masa karantina selama 10 hari di pusat pendidikan dan pelatihan.

Selama karantina, peserta akan menjalani latihan fisik intensif di bawah pengawasan medis.

“Seluruh proses ini akan mencapai puncaknya pada upacara pengukuhan sehari sebelum hari kemerdekaan,” ujar Wiji.

Ia berharap, peserta terpilih nantinya memiliki kesiapan fisik, mental, serta ideologi yang kuat.

Exit mobile version