CIAMIS, SAWALAJABAR.COM — Bagaimana sebuah perpustakaan keliling bisa mengubah masa depan anak-anak? Kisah itu diangkat dalam kabaret yang dimainkan pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis saat pembukaan Festival Literasi Ciamis 2026.
Pertunjukan yang digelar di halaman kantor dinas tersebut, Selasa (22/9/2026), mengisahkan perjalanan empat anak di sebuah desa yang memiliki cita-cita berbeda. Ada yang ingin menjadi ustaz, dokter, hingga pengusaha.
Namun, tidak semua anak memiliki semangat belajar yang sama. Salah satu tokoh digambarkan lebih suka bermalas-malasan dan kurang tertarik membaca buku.
Kehidupan mereka mulai berubah ketika mobil perpustakaan keliling datang ke desa. Seorang guru kemudian memperkenalkan layanan tersebut dan mengajak anak-anak memanfaatkan buku sebagai sumber pengetahuan.
Seiring waktu, mobil perpustakaan terus datang membawa berbagai koleksi buku. Anak-anak pun mulai terbiasa membaca, berdiskusi, dan mencari pengetahuan baru.
Dari buku, mereka tidak hanya mempelajari pelajaran sekolah, tetapi juga mengenal ilmu agama, bisnis, hingga cara memahami informasi yang beredar di masyarakat.
Pertunjukan itu juga menyelipkan pesan tentang pentingnya literasi digital. Anak-anak diajak untuk lebih cermat memilah informasi agar tidak mudah percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya.
Cerita kemudian melompat ke sepuluh tahun berikutnya. Kebiasaan membaca yang mereka bangun sejak kecil menjadi salah satu bekal untuk mengejar cita-cita.
Beberapa tokoh berhasil meraih impiannya. Ada yang menjadi ustaz, dokter anak, hingga pengusaha. Sementara itu, tokoh yang dahulu malas belajar harus menghadapi penyesalan karena tidak membiasakan diri membaca sejak awal.
Meski begitu, teman-temannya mengingatkan bahwa belajar tidak mengenal kata terlambat. Pesan tersebut menjadi penutup cerita bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk membuka buku dan mulai membaca.
Perpustakaan Tak Hanya Tempat Membaca
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis, Okta Jabal Nugraha, mengatakan kabaret tersebut merupakan salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan perpustakaan kepada masyarakat.
Menurutnya, perpustakaan selama ini masih kerap dipahami sebatas tempat menyimpan dan membaca buku. Padahal, fungsinya lebih luas, termasuk sebagai ruang untuk mendapatkan informasi, menambah pengetahuan, belajar, dan berdiskusi.
“Kita mencoba membangun image bahwa selama ini perpustakaan itu hanya menyimpan, membaca buku. Padahal di situ ada ruang informasi, ruang pengetahuan, pembelajaran dan terus meningkatkan diskusi dengan masyarakat,” kata Okta.
Karena itu, pihaknya memanfaatkan kreativitas para pegawai untuk menyampaikan pesan literasi melalui seni pertunjukan.
“Bagaimana membuat karya, sesuatu kreativitas oleh talenta-talenta karyawan. Timbullah jadi itu untuk Festival Literasi,” ujarnya.
Okta menilai keterlibatan pegawai dalam kabaret menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pesan tentang membaca dan belajar tidak harus selalu disampaikan melalui kegiatan formal.
Festival Libatkan Berbagai Kalangan
Festival Literasi Ciamis 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 22 hingga 24 September 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses dan memanfaatkan pengetahuan.
Berbagai kalangan dilibatkan dalam festival tersebut, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, pelaku UMKM, seniman hingga budayawan.
Selain kabaret, festival juga diisi dengan bimbingan teknis, talkshow, edukasi, dan berbagai pertunjukan seni.
Okta berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat semakin mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat. Dengan begitu, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga ruang untuk belajar, bertukar informasi, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas.
“Sehingga nantinya akan mendorong minat baca dan budaya literasi di Ciamis semakin meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan budaya literasi juga diharapkan dapat mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Ciamis.
Okta menyebut Ciamis saat ini berada di peringkat kedua di Jawa Barat berdasarkan indikator IPLM yang digunakan pemerintah.
Melalui Festival Literasi Ciamis 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berupaya memperluas kesempatan masyarakat untuk membaca, belajar, berdiskusi, dan berkarya.
Kabaret yang dimainkan para pegawai menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan tersebut. Kisah anak-anak yang mengenal buku melalui perpustakaan keliling menggambarkan bagaimana kebiasaan membaca dapat menjadi bekal untuk meraih cita-cita.*** (Adv)












