Sahabat TAGANA Ciamis, Bekal 59 Pemuda Hadapi Bencana

Oplus_131072

Sawalajabar.com, CIAMIS. Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Mengenali risiko, mengetahui cara menyelamatkan diri, mampu membantu orang lain dan tidak panik saat keadaan darurat merupakan bekal yang perlu dimiliki sejak dini.

Semangat itulah yang dibangun melalui kegiatan Sahabat TAGANA Kabupaten Ciamis Tahun 2026 yang diikuti 59 peserta dari wilayah Eks Kawedanan Rancah.

Kegiatan dibuka Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ciamis, H. Ihsan Rasyad, Kamis, 24 September 2026, pukul 08.00 WIB, di Wisata Jembatan Swiss, Desa Giriharja, Kecamatan Rancah.

Dalam sambutannya, Ihsan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai Sahabat TAGANA menjadi momentum untuk mengenalkan kepedulian sosial dan kesiapsiagaan bencana kepada generasi muda.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Ciamis, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terlaksananya kegiatan Sahabat TAGANA Tahun 2026,” ujar Ihsan.

Menurutnya, bencana dapat terjadi kapan dan di mana saja. Karena itu, pengetahuan serta kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini agar generasi muda tidak hanya mengetahui potensi bahaya, tetapi juga memahami langkah yang harus dilakukan ketika kondisi darurat terjadi.

Melalui Sahabat TAGANA, peserta dibekali pengetahuan kebencanaan sekaligus nilai-nilai kepedulian, kerja sama, kedisiplinan dan keberanian untuk membantu sesama.

Ihsan menegaskan, menjadi Sahabat TAGANA tidak harus dimaknai sebagai keharusan untuk selalu berada di garis depan ketika bencana terjadi. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

“Cukup dimulai dari hal-hal sederhana seperti mengetahui cara menyelamatkan diri, membantu teman yang membutuhkan pertolongan, menjaga lingkungan, tidak panik ketika terjadi keadaan darurat dan mau peduli terhadap orang lain,” katanya.

Tidak Berhenti di Ruang Materi

Pelatihan Sahabat TAGANA Ciamis dirancang tidak hanya memberikan pembelajaran secara teori. Peserta juga diarahkan mengikuti praktik lapangan untuk menguji pengetahuan yang telah diperoleh.

Pada Kamis, peserta mendapatkan sejumlah materi, mulai dari kebijakan Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana, PSKS, pengenalan TAGANA, kesiapsiagaan dan peringatan dini hingga Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD).

Materi lainnya mencakup shelter, dapur umum serta pemetaan risiko dan mitigasi bencana.

Memasuki Jumat, pembelajaran bergeser ke kegiatan yang lebih banyak bersifat praktik. Peserta mendapatkan materi PBB, praktik shelter dan pengelolaan logistik saat terjadi bencana.

Mereka juga mengikuti materi dan praktik water rescue, PPGD serta dapur umum.

Sementara pada Sabtu, peserta menjalani materi vertical rescue dan kembali mendapatkan penguatan mengenai mitigasi bencana. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui apel penutupan yang dipimpin Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ciamis.

Rangkaian tersebut memberikan pengalaman kepada peserta bahwa penanganan bencana membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ada kemampuan teknis, koordinasi, kedisiplinan dan ketenangan yang harus dikuasai ketika menghadapi kondisi darurat.

Membentuk Generasi yang Peduli

Ihsan menyebut para peserta merupakan bagian dari generasi muda yang akan menjadi penerus pembangunan di Tatar Galuh Ciamis. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama perlu berjalan seiring dengan kemampuan akademis maupun keterampilan lainnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun budaya siap menghadapi risiko bencana di lingkungan masing-masing.

“Jadilah generasi muda yang peduli, tangguh, siap membantu dan siap menjadi bagian dari solusi,” pesan Ihsan.

Ia juga meminta seluruh peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan penuh semangat, tidak ragu bertanya, aktif berlatih dan mengambil pengalaman sebanyak-banyaknya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Ciamis, Sahabat TAGANA diharapkan menjadi wadah untuk menumbuhkan generasi muda yang bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga jiwa sosial, kepedulian dan semangat kemanusiaan.

Dari Rancah, pembekalan itu dimulai. Sebanyak 59 peserta tidak hanya belajar mengenali bencana, tetapi juga ditempa melalui latihan agar memiliki bekal ketika berhadapan dengan situasi darurat.

Kesiapsiagaan pada akhirnya bukan sekadar soal siapa yang berada di garis depan saat bencana datang. Ia juga lahir dari masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan, mampu menjaga diri dan tidak ragu membantu orang di sekitarnya. (Resa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *