Dispusip Ciamis Hadirkan Perpustakaan Keliling di Hajat Bumi Cariu 2026, Dekatkan Literasi dengan Kearifan Lokal   

Dispusip Ciamis Hadirkan Perpustakaan Keliling di Hajat Bumi Cariu 2026, Dekatkan Literasi dengan Kearifan Lokal. (Foto: Dispusip Ciamis)
Dispusip Ciamis Hadirkan Perpustakaan Keliling di Hajat Bumi Cariu 2026, Dekatkan Literasi dengan Kearifan Lokal. (Foto: Dispusip Ciamis)

CIAMIS, SawalaJabar.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Ciamis menghadirkan layanan perpustakaan keliling pada rangkaian Hajat Bumi Cariu 2026 di Dusun Cariu, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Senin (22/6/2026).

Kehadiran perpustakaan keliling menjadi salah satu daya tarik dalam tradisi tahunan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tersebut.

Sejak pagi, sejumlah siswa sekolah dasar tampak antusias mengunjungi mobil perpustakaan untuk membaca berbagai koleksi buku yang disediakan.

Hajat Bumi Cariu merupakan tradisi turun-temurun masyarakat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen dan limpahan rezeki.

Selain menjadi agenda pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat melalui berbagai aktivitas yang melibatkan generasi muda.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis, H. Okta Jabal Nugraha, mengatakan kehadiran perpustakaan keliling di tengah pelaksanaan Hajat Bumi Cariu merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendekatkan layanan literasi kepada masyarakat, sekaligus memadukan budaya membaca dengan pelestarian budaya daerah.

“Perpustakaan tidak hanya hadir di gedung atau ruang baca, tetapi harus mampu menjangkau masyarakat di mana pun mereka beraktivitas. Momentum Hajat Bumi menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menanamkan budaya gemar membaca, khususnya kepada anak-anak,” ujar Okta.

Menurutnya, tradisi budaya dan literasi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Keduanya sama-sama menjadi media pewarisan nilai, pengetahuan, sejarah, serta identitas suatu daerah kepada generasi penerus.

“Budaya lokal mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara literasi menjadi sarana untuk memperkaya pengetahuan agar warisan budaya tersebut tetap dikenal, dipahami, dan dilestarikan oleh generasi muda,” katanya.

Okta menilai, menghadirkan perpustakaan keliling dalam kegiatan budaya merupakan salah satu cara efektif membangun minat baca masyarakat.

Suasana yang santai dan penuh kebersamaan membuat anak-anak lebih tertarik mengenal buku tanpa merasa sedang mengikuti proses belajar formal.

“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Ketika buku hadir di tengah kegiatan masyarakat seperti ini, mereka akan lebih mudah tertarik untuk membaca dan menambah wawasan,” tuturnya.

Ia berharap layanan perpustakaan keliling dapat terus menjangkau berbagai kegiatan masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis, sehingga budaya membaca semakin tumbuh seiring dengan pelestarian tradisi dan kearifan lokal.

“Literasi dan budaya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus saling menguatkan untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta bangga terhadap identitas daerahnya. Melalui perpustakaan keliling, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang dekat, mudah diakses, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” ungkapnya.

Okta juga mengapresiasi antusiasme para siswa yang memanfaatkan layanan perpustakaan keliling selama kegiatan berlangsung.

Menurutnya, semangat anak-anak dalam membaca menjadi harapan besar bagi terwujudnya masyarakat Ciamis yang semakin literat.

“Semoga kehadiran perpustakaan keliling ini dapat menjadi inspirasi bahwa di mana pun tempatnya, membaca tetap bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari budaya kita belajar jati diri, dari literasi kita membangun masa depan,” pungkasnya.*** (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *