CIAMIS, sawalajabar.com. Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan tumplek ruah di Panjalu, Kabupaten Ciamis, saat puncak Upacara Adat Nyangku 2026, Senin (7/9/2026).
Keramaian itu tidak hanya menjadi gambaran kuatnya daya tarik tradisi leluhur, tetapi juga ikut menghidupkan aktivitas wisata dan perekonomian masyarakat setempat.
Sejak pagi, masyarakat berdatangan ke kawasan Panjalu untuk menyaksikan rangkaian kirab hingga prosesi pencucian pusaka. Sebagian datang bersama keluarga, rombongan, maupun komunitas. Ada pula pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang karena penasaran ingin menyaksikan Nyangku sekaligus mengenal lebih dekat kawasan wisata Panjalu, termasuk Situ Lengkong.
Ramainya kunjungan membuat denyut ekonomi di sekitar lokasi kegiatan ikut terasa. Pedagang makanan, minuman, jajanan hingga penjual kaos bertema Nyangku memanfaatkan kerumunan pengunjung untuk menawarkan dagangannya.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa Nyangku tidak berhenti sebagai sebuah upacara adat. Ketika masyarakat datang dalam jumlah besar, berbagai aktivitas ikut tumbuh di sekitarnya.
Datang untuk Nyangku, Sekalian Mengenal Situ Lengkong
Bagi sejumlah pengunjung, Nyangku menjadi alasan untuk datang dan mengenal lebih jauh Panjalu.
Salah seorang pengunjung, Nita mengaku sengaja datang karena ingin melihat langsung prosesi Nyangku sekaligus mengetahui seperti apa kawasan Situ Lengkong Panjalu.
“Saya memang sengaja datang karena penasaran ingin melihat Situ Lengkong secara langsung. Kebetulan ada Nyangku, jadi sekalian datang untuk melihat prosesi adatnya. Ternyata ramai sekali dan suasananya juga menarik,” ujarnya.
Menurutnya, satu kunjungan ke Panjalu memberikan pengalaman yang lebih beragam. Selain melihat tradisi, pengunjung dapat menikmati suasana kawasan wisata, mencicipi kuliner dan membeli produk masyarakat.
“Jadi tidak hanya datang untuk melihat acaranya. Bisa sekalian jalan-jalan, melihat Situ Lengkong, membeli makanan dan oleh-oleh. Kalau seperti ini, rasanya memang cocok untuk wisata keluarga,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana sebuah agenda budaya dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal destinasi wisata lain yang berada di kawasan Panjalu.
Pedagang Minuman hingga Penjual Kaos Ikut Bergeliat
Keramaian Nyangku turut dirasakan para pelaku usaha. Sejumlah pedagang terlihat sibuk melayani pengunjung yang datang silih berganti.
Mulai dari penjual minuman, makanan dan jajanan hingga pedagang yang menjual kaos khas Nyangku, semuanya memanfaatkan momentum tersebut.
Salah seorang penjual kaos Nyangku, Linda, mengaku penjualan dagangannya ikut terdorong oleh ramainya pengunjung.
“Alhamdulillah ramai. Dari pagi pengunjung sudah banyak. Ada yang beli kaos Nyangku untuk dipakai sendiri, ada juga yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” ujar Linda.
Menurut Linda, keramaian Nyangku tidak hanya membawa keuntungan bagi pedagang kaos. Penjual makanan dan minuman juga mendapatkan pembeli lebih banyak.
“Pedagang minuman, makanan, sampai yang jual kaos seperti kami ikut merasakan ramainya. Mudah-mudahan setiap tahun semakin ramai. Kalau pengunjung banyak, pedagang kecil juga ikut terbantu,” katanya.
Geliat tersebut menjadi salah satu dampak yang paling mudah terlihat ketika sebuah kegiatan budaya mampu menarik masyarakat dalam jumlah besar.
Pengunjung membutuhkan makanan dan minuman, mencari cendera mata, serta berbelanja produk lokal. Di sisi lain, pedagang memperoleh kesempatan memperluas pasar dan meningkatkan transaksi.
Wajar Jika Nyangku Disebut Konsep Wisata Terintegrasi
Besarnya antusiasme masyarakat pada Nyangku 2026 juga menjadi perhatian Ketua BP2D Ciamis Endang Haris Juandana
Melihat kondisi di lapangan, ia menyebut wajar apabila Nyangku disebut sebagai salah satu konsep wisata terintegrasi. Sebab, berbagai unsur yang mendukung aktivitas pariwisata hadir secara bersamaan dalam satu rangkaian kegiatan.
Budaya menjadi daya tarik utama. Masyarakat datang sebagai pengunjung. Kawasan Panjalu dan Situ Lengkong menjadi bagian dari tujuan kunjungan. Kuliner dan UMKM melengkapi pengalaman wisata, sementara aktivitas perdagangan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Melihat antusias masyarakat yang tumpah ruah seperti ini, wajar kalau Nyangku disebut sebagai salah satu konsep wisata terintegrasi. Ada budaya, ada masyarakat yang datang, ada kawasan wisata, ada kuliner, UMKM yang berjualan, dan aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” ujar Ketua BP2D Ciamis.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar gambaran potensi di atas kertas. Aktivitas wisata dan ekonomi itu terlihat secara nyata selama pelaksanaan Nyangku.
“Orang datang bukan hanya untuk melihat prosesi. Mereka juga menikmati suasana Panjalu, mengenal Situ Lengkong, membeli makanan, membeli produk UMKM, bahkan membawa pulang cendera mata. Semuanya bertemu dalam satu momentum,” katanya.
Dengan pola seperti itu, Nyangku dapat menjadi salah satu contoh bagaimana kekuatan budaya mampu menjadi penggerak kunjungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Kirab Pusaka Jadi Magnet Utama
Keramaian masyarakat tidak terlepas dari rangkaian utama Upacara Adat Nyangku 2026.
Pemerintah Desa Panjalu mencantumkan prosesi pengeluaran pusaka dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Pusaka dikeluarkan dari Pasucian Bumi Alit untuk kemudian dibawa dalam kirab menuju kawasan Situ Lengkong dan Pulau Nusa Gede.
Rangkaian tersebut juga mencakup ziarah ke makam leluhur Panjalu di Nusa Gede sebelum pusaka dibawa kembali menuju Taman Borosngora.
Prosesi pencucian pusaka di kawasan Taman Borosngora dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB.
Sejumlah pusaka yang menjadi bagian dari rangkaian tersebut antara lain pedang, cis, keris, bangreng dan gong.
Setelah menjalani prosesi pencucian, pusaka kemudian dibungkus dan dikembalikan ke tempat penyimpanannya di Bumi Alit.
Puncak Nyangku 2026 bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Tradisi yang Menghidupkan Panjalu
Upacara Adat Nyangku merupakan tradisi masyarakat Panjalu yang telah dijalankan secara turun-temurun. Tradisi tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap pusaka leluhur Panjalu sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Nyangku juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Prabu Sanghyang Borosngora dan perkembangan Islam di Panjalu.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Sebelumnya telah digelar Tradisi Samida sekitar sepekan sebelum prosesi utama, disusul berbagai kegiatan kesenian, budaya, pengajian serta doa bersama.
Panjang dan beragamnya rangkaian kegiatan membuat Nyangku tidak hanya menghadirkan satu titik keramaian. Aktivitas masyarakat ikut menyebar ke berbagai ruang di kawasan Panjalu.
Masyarakat datang untuk budaya, sebagian melanjutkan perjalanan menikmati destinasi, sementara pedagang dan UMKM mengambil kesempatan dari meningkatnya kunjungan.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa Nyangku memiliki kekuatan sebagai magnet wisata berbasis budaya. Tradisi menjadi pintu masuk, Panjalu menjadi tujuan, Situ Lengkong menjadi bagian dari pengalaman perjalanan, dan UMKM menjadi salah satu pihak yang ikut merasakan manfaat dari ramainya kunjungan.
Jika terus dijaga nilai adatnya sekaligus ditata dari sisi kunjungan dan aktivitas ekonomi, Nyangku bukan hanya menjadi warisan budaya yang terus hidup, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari pengembangan wisata terintegrasi berbasis masyarakat di Kabupaten Ciamis. (Resa)
