CIAMIS, sawalajabar. Upaya menjaga bahasa Sunda agar tetap dekat dengan kehidupan anak-anak terus dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis. Salah satunya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Kabupaten Ciamis yang digelar di SDN 1 Cijeungjing, Kamis (27/8/2026).
Festival tersebut diikuti sekitar 374 siswa SD dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis. Selain menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berbahasa dan bersastra Sunda, FTBI juga diarahkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa ibu sekaligus mengenalkan kembali kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.
FTBI Bukan Sekadar Perlombaan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, mengatakan FTBI memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kompetisi antarsiswa.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk bertemu, berbaur dan membangun hubungan dengan siswa dari sekolah maupun wilayah lain.
“Sehingga kita kelihatan inklusinya. Kegiatan ini bukan hanya sekadar lomba. Itu yang harus ditanamkan di setiap diri, baik itu di anak maupun di guru pendamping. Kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi antara satu sama lain,” ujar Erwan.
Ia pun mendorong peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk saling mengenal. Bahkan, Erwan memiliki kebiasaan setiap melepas kontingen dalam berbagai kegiatan dengan meminta anak-anak mengenal sedikitnya lima peserta lainnya.
“Biasanya saya kalau melepas kontingen ke mana-mana mewajibkan satu anak itu mengenal lima anak lainnya dari kontingennya masing-masing. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi,” katanya.
Erwan menilai pertemuan dan pengalaman yang diperoleh anak-anak dalam sebuah kegiatan bisa menjadi kenangan yang bernilai ketika mereka dewasa.
“Kalau usia segini kita berkenalan, kalau ada nomor kontaknya nanti ketemu lagi. Begitu kita sudah dewasa, akan ada cerita yang dirindukan dari kegiatan ini,” ujarnya.
Juri Diminta Menilai Secara Adil
Di hadapan peserta dan pendamping, Erwan juga mengingatkan dewan juri agar menjalankan tugas secara profesional dan memberikan penilaian seadil mungkin.
Ia memahami bahwa menilai kemampuan dalam lomba bahasa dan sastra bukan perkara sederhana. Selain penguasaan materi, diperlukan kepekaan dalam melihat kemampuan serta penampilan setiap peserta.
“Saya yakin dewan juri yang dipilih adalah dewan juri yang profesional dan menguasai materi. Saya berharap dewan juri seadil mungkin, karena FTBI ini termasuk perlombaan yang susah untuk menilainya,” jelasnya.
Menurut Erwan, kepekaan emosi dan kemampuan memahami karakter peserta juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian.
Menjaga Bahasa Sunda dari Generasi ke Generasi
Lebih jauh, Erwan menegaskan FTBI merupakan salah satu bagian dari upaya melindungi dan melestarikan bahasa ibu.
Ia meminta siswa tidak berhenti menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan festival, tetapi juga membawanya ke lingkungan sehari-hari.
“Kepada anak-anak, ini merupakan perlindungan terhadap bahasa ibu. Anak-anak adalah penerus kami untuk melindungi bahasa ibu,” katanya.
Erwan mengingatkan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Menurutnya, ketika bahasa mulai ditinggalkan, keberlangsungan budaya juga menghadapi tantangan.
“Diyakini kalau suatu bangsa itu hancur ditandai dengan hancurnya budayanya. Hancurnya budaya juga ditandai oleh hancurnya bahasanya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak para siswa untuk tidak hanya menggunakan bahasa Sunda untuk kepentingan pribadi, tetapi ikut mengenalkannya kepada teman-teman di lingkungan mereka.
“Kepada anak-anak bukan cuma untuk diri pribadi, tapi sebarkan ke teman-teman yang lain,” ucap Erwan.
Guru Pendamping Diminta Pastikan Peserta Aman
Selain soal pelestarian bahasa dan budaya, Erwan mengingatkan guru pendamping untuk memperhatikan keselamatan seluruh peserta selama kegiatan berlangsung.
Ia meminta setiap pendamping memastikan anak-anak yang dibawa mengikuti kegiatan kembali ke rumah dalam kondisi aman dan jumlahnya lengkap.
“Yakinkan bahwa anak hari ini datang dan kembali jumlahnya utuh, tidak bertambah, tidak berkurang. Pastikan sampai di rumah anaknya masing-masing,” pungkasnya.
Tujuh Mata Lomba Dipertandingkan
Koordinator Kegiatan FTBI Kabupaten Ciamis, Mamat Adimat, mengatakan FTBI jenjang SD tingkat kabupaten tahun ini diikuti sekitar 374 siswa.
“Pesertanya kurang lebih 374 siswa,” kata Mamat.
Ia menjelaskan, terdapat tujuh mata lomba yang dipertandingkan. Beberapa di antaranya carpon, dongeng, aksara Sunda, pupuh dan sisindiran.
Setelah seluruh rangkaian perlombaan selesai, peserta terbaik akan dipersiapkan menjadi wakil Kabupaten Ciamis pada FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Untuk tingkat kabupaten, insyaallah kita maju ke tingkat provinsi. Perwakilan kita yang berangkat ke sana sekitar 14 orang,” jelasnya.
Mamat menilai kemampuan peserta tahun ini cukup baik. Ia berharap sejumlah siswa mampu meraih prestasi dan membawa nama Ciamis pada tingkat provinsi.
“Insyaallah semuanya bisa dilihat, mungkin beberapa juara. Untuk sekarang ini memang bagus,” tuturnya.
Ia berharap pelaksanaan FTBI di Ciamis terus berkembang, baik dari sisi penyelenggaraan maupun prestasi yang diraih peserta.
“Harapannya tentunya kegiatan ini lebih maju lagi, kemudian ada hasil yang sangat memuaskan,” katanya.
Menurut Mamat, tujuan yang tidak kalah penting adalah membuat bahasa Sunda semakin akrab dengan kehidupan anak-anak.
“Intinya kepada anak-anak, penggunaan bahasa Sunda ini supaya lebih kita gunakan sebagai bahasa ibu,” pungkasnya.
FTBI dan Masa Depan Bahasa Sunda
Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu ruang bagi anak-anak Ciamis untuk mengenal, menggunakan dan mengembangkan bahasa Sunda melalui kegiatan yang menyenangkan dan kompetitif.
Lebih dari sekadar mencari juara, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran bahwa bahasa daerah merupakan warisan budaya yang perlu terus digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Resa)
